Perusahaan dapat menghabiskan jutaan rupiah untuk mengembangkan produk, menjalankan kampanye pemasaran, dan meningkatkan layanan. Namun, seluruh investasi tersebut dapat menjadi kurang efektif apabila perusahaan tidak benar-benar memahami apa yang diinginkan konsumennya.
Masalahnya, konsumen tidak selalu menyampaikan kebutuhannya secara langsung.
Mereka mungkin mengatakan menginginkan harga yang lebih murah, tetapi sebenarnya masalah utama mereka adalah persepsi value. Mereka mungkin mengeluhkan fitur tertentu, tetapi kebutuhan yang sebenarnya adalah pengalaman penggunaan yang lebih sederhana.
Inilah alasan mengapa Voice of Customer (VoC) menjadi penting.
Voice of Customer merupakan pendekatan sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, dan menerjemahkan suara konsumen menjadi insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan bisnis.
VoC bukan sekadar mengumpulkan keluhan pelanggan. Pendekatan ini berusaha memahami:
- apa yang konsumen katakan;
- apa yang konsumen butuhkan;
- apa yang konsumen harapkan;
- apa yang membuat mereka kecewa;
- apa yang membuat mereka memilih perusahaan;
- apa yang membuat mereka berpindah ke kompetitor.
Melalui jasa market research, perusahaan dapat membangun sistem VoC yang lebih terstruktur. Sementara itu, jasa sebar kuesioner terpercaya membantu memperoleh data primer langsung dari target konsumen dengan kriteria responden yang dapat dikontrol.
Apa Itu Voice of Customer?
Voice of Customer adalah proses mengidentifikasi kebutuhan, keinginan, ekspektasi, dan persepsi pelanggan melalui berbagai sumber data.
Sumber VoC dapat berasal dari:
- survei;
- wawancara;
- focus group discussion;
- customer review;
- customer service;
- social listening;
- feedback produk;
- data keluhan;
- komunitas pelanggan.
Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui opini pelanggan, tetapi menemukan insight yang dapat ditindaklanjuti.
Mengapa Voice of Customer Penting?
Perusahaan yang memahami suara konsumennya dapat:
- mengembangkan produk yang lebih relevan;
- meningkatkan customer experience;
- mengurangi customer pain points;
- meningkatkan kepuasan;
- memperkuat loyalitas;
- menemukan peluang inovasi;
- meningkatkan relevansi komunikasi pemasaran.
VoC membuat perusahaan bergerak dari pendekatan company-centric menuju customer-centric.
Framework Voice of Customer
1. Define the Business Question
VoC sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan:
"Apa yang ingin dikatakan pelanggan?"
Pertanyaan yang lebih strategis adalah:
"Keputusan bisnis apa yang ingin kita bantu selesaikan melalui suara pelanggan?"
Contohnya:
- Mengapa pelanggan berhenti menggunakan produk?
- Fitur apa yang paling dibutuhkan?
- Mengapa conversion rendah?
- Apa yang membuat pelanggan memilih kompetitor?
- Apa yang dapat meningkatkan loyalitas?
Pertanyaan bisnis menentukan desain penelitian.
2. Menentukan Customer Segment
Tidak semua pelanggan memiliki kebutuhan yang sama.
Karena itu, VoC perlu mempertimbangkan:
- pelanggan baru;
- pelanggan lama;
- pelanggan loyal;
- pelanggan yang tidak aktif;
- mantan pelanggan;
- pengguna kompetitor.
Dengan segmentasi tersebut, perusahaan dapat mengetahui perbedaan kebutuhan antar kelompok.
3. Mengumpulkan Customer Voice
Melalui jasa sebar kuesioner terpercaya, perusahaan dapat mengumpulkan data mengenai:
- kebutuhan;
- harapan;
- tingkat kepuasan;
- pain points;
- preferensi;
- purchase drivers;
- alasan berpindah;
- persepsi terhadap produk.
Kuesioner dapat menjadi salah satu sumber data utama dalam VoC, terutama ketika perusahaan membutuhkan insight dari sampel konsumen yang lebih luas.
4. Menggabungkan Data Kuantitatif dan Kualitatif
Data kuantitatif menjawab:
"Seberapa banyak?"
Sedangkan data kualitatif membantu menjawab:
"Mengapa?"
Misalnya, survei menemukan bahwa 42% konsumen menganggap proses pembelian terlalu rumit.
Wawancara kemudian dapat menggali bagian mana yang dianggap rumit dan mengapa.
Kombinasi keduanya menghasilkan insight yang lebih mendalam.
5. Mengidentifikasi Customer Pain Points
Pain point merupakan hambatan atau masalah yang dialami konsumen dalam berinteraksi dengan produk atau perusahaan.
Contohnya:
- proses pembelian terlalu lama;
- informasi produk tidak jelas;
- harga dianggap tidak sebanding;
- layanan pelanggan lambat;
- fitur sulit digunakan;
- proses klaim rumit.
Tidak semua pain point memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan prioritization.
6. Mengubah Voice Menjadi Insight
Salah satu tantangan terbesar dalam VoC adalah membedakan data, voice, dan insight.
Contohnya:
Voice:
"Saya kesulitan menemukan informasi produk."
Finding:
Banyak pelanggan mengalami kesulitan mencari informasi.
Insight:
Struktur informasi produk belum mengikuti kebutuhan pelanggan ketika melakukan evaluasi pembelian.
Business Action:
Perusahaan perlu menyederhanakan arsitektur informasi dan menempatkan informasi penting lebih awal dalam customer journey.
Di sinilah nilai strategis VoC muncul.
7. Prioritizing Customer Needs
Setelah berbagai kebutuhan ditemukan, perusahaan dapat memprioritaskannya berdasarkan:
- importance;
- satisfaction;
- frequency;
- business impact;
- implementation feasibility.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak mencoba memperbaiki semuanya sekaligus.
Fokus diberikan pada kebutuhan yang memiliki customer impact dan business impact terbesar.
Customer Needs vs Customer Wants
Salah satu tantangan dalam membaca suara konsumen adalah membedakan kebutuhan dan keinginan.
Misalnya:
Customer says:
"Saya ingin aplikasi memiliki lebih banyak fitur."
Namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa pelanggan sebenarnya mengalami kesulitan menemukan fitur yang sudah tersedia.
Artinya, solusi terbaik mungkin bukan menambah fitur, tetapi menyederhanakan pengalaman penggunaan.
Inilah mengapa VoC tidak boleh hanya diterjemahkan secara literal.
Peran Jasa Market Research dalam Voice of Customer
Melalui jasa market research, perusahaan dapat:
- merancang metodologi VoC;
- menentukan target responden;
- menyusun instrumen penelitian;
- menganalisis customer needs;
- mengidentifikasi pain points;
- melakukan prioritization;
- menghasilkan strategic recommendations.
Dengan demikian, VoC dapat menjadi bagian dari sistem customer intelligence perusahaan.
Peran Jasa Sebar Kuesioner Terpercaya
Data VoC akan memiliki nilai tinggi apabila responden yang digunakan benar-benar relevan.
Melalui jasa sebar kuesioner terpercaya, perusahaan dapat mengatur:
- profil responden;
- screening criteria;
- jumlah responden;
- distribusi wilayah;
- segmentasi;
- quality control.
Hal ini membantu mengurangi risiko insight yang berasal dari responden yang tidak sesuai target.
Menghubungkan VoC dengan Customer Journey
Voice of Customer akan semakin powerful ketika dikaitkan dengan Consumer Decision Journey.
Misalnya:
Awareness
"Konsumen tidak memahami perbedaan produk."
Consideration
"Informasi produk sulit dibandingkan."
Purchase
"Proses checkout terlalu panjang."
Experience
"Customer service lambat."
Loyalty
"Tidak ada alasan kuat untuk kembali."
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengetahui bukan hanya apa yang dikeluhkan, tetapi di titik perjalanan mana masalah tersebut terjadi.
Studi Kasus
Sebuah perusahaan layanan digital mengalami penurunan customer retention.
Data internal menunjukkan bahwa produk sebenarnya memiliki tingkat penggunaan yang tinggi.
Perusahaan kemudian menjalankan VoC Study.
Hasil penelitian menemukan bahwa masalah utama bukan kualitas produk, tetapi:
- proses onboarding terlalu panjang;
- pelanggan tidak memahami fitur utama;
- dukungan pelanggan kurang responsif.
Perusahaan kemudian mengubah proses onboarding dan memperkenalkan panduan penggunaan yang lebih sederhana.
Dalam periode berikutnya, tingkat penggunaan fitur meningkat dan churn menurun.
Insight tersebut menunjukkan bahwa terkadang solusi terhadap masalah retention tidak berada pada produk, tetapi pada customer experience.
Kesalahan Umum dalam Voice of Customer
Menganggap Semua Feedback Sama Penting
Volume feedback tidak selalu menunjukkan tingkat kepentingan.
Hanya Mendengarkan Pelanggan yang Aktif
Mantan pelanggan dapat memberikan insight yang sangat berharga mengenai alasan churn.
Tidak Melakukan Segmentasi
Kebutuhan pelanggan premium mungkin berbeda dengan pelanggan mass market.
Mengumpulkan Data Tanpa Action
VoC yang hanya menghasilkan laporan tidak memberikan nilai strategis.
Tujuan akhirnya harus berupa keputusan atau tindakan.
Best Practice Voice of Customer
Perusahaan yang memiliki sistem VoC matang umumnya:
- menggabungkan berbagai sumber data;
- melakukan segmentasi pelanggan;
- menggabungkan kuantitatif dan kualitatif;
- memprioritaskan kebutuhan berdasarkan business impact;
- menghubungkan VoC dengan customer journey;
- mengintegrasikan insight dengan product development;
- melakukan pengukuran secara berkala.
Dengan demikian, suara pelanggan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.