Jasa riset skripsi

oleh Admin Jul 05, 2018 Insight

Jasa riset skripsi

Pengertian Skripsi dan Riset dalam Penelitian Ilmiah

Skripsi merupakan salah satu bentuk karya ilmiah yang umumnya disusun oleh mahasiswa sebagai bagian dari proses penyelesaian pendidikan di perguruan tinggi. Secara umum, skripsi berbeda dengan tulisan nonilmiah seperti artikel opini, esai populer, maupun karya fiksi. Perbedaan tersebut terutama terletak pada cara penyusunan argumentasi, penggunaan teori, sumber referensi, metodologi, serta aturan penulisan yang digunakan. Sebuah skripsi harus disusun berdasarkan prinsip berpikir ilmiah sehingga setiap argumentasi yang disampaikan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam karya ilmiah, penulis tidak hanya menyampaikan pendapat pribadi mengenai suatu persoalan. Pembahasan harus dibangun berdasarkan konsep, teori, hasil penelitian terdahulu, data, serta sumber akademik yang relevan. Oleh karena itu, penggunaan referensi menjadi salah satu bagian penting dalam penyusunan skripsi. Referensi digunakan untuk memperkuat argumentasi sekaligus menunjukkan hubungan antara persoalan yang sedang dikaji dengan pengetahuan ilmiah yang telah berkembang sebelumnya.

Selain substansi pembahasan, skripsi juga memiliki aturan teknis yang perlu diperhatikan. Teknik mengutip sumber, penyusunan daftar pustaka, penggunaan catatan kaki, struktur bab, penyajian tabel dan gambar, penggunaan singkatan, hingga pemilihan istilah perlu mengikuti pedoman akademik yang berlaku di perguruan tinggi masing-masing. Aturan tersebut dibuat agar karya ilmiah memiliki struktur yang jelas, konsisten, dan dapat dipahami oleh pembaca.

Hakikat Skripsi sebagai Karya Ilmiah

Pada dasarnya, inti dari skripsi bukan sekadar menghasilkan tulisan yang panjang. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mahasiswa dalam membahas suatu persoalan secara sistematis dengan menggunakan landasan ilmiah. Mahasiswa dituntut untuk menunjukkan bagaimana sebuah fenomena dapat dipahami, dijelaskan, atau dianalisis melalui konsep dan teori yang relevan.

Dengan demikian, skripsi dapat menjadi sarana untuk menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penalaran ilmiah. Mahasiswa harus mampu mengidentifikasi persoalan, merumuskan pertanyaan, memilih perspektif teoritis yang sesuai, mengembangkan argumentasi, serta menarik kesimpulan berdasarkan proses analisis yang telah dilakukan.

Sebuah skripsi juga tidak selalu harus menghasilkan teori baru. Dalam konteks pendidikan sarjana, kemampuan untuk menerapkan teori yang sudah ada dalam menganalisis suatu fenomena juga merupakan bagian penting dari proses akademik. Mahasiswa dapat menggunakan teori tertentu untuk memahami fenomena sosial, ekonomi, komunikasi, sastra, manajemen, pendidikan, maupun bidang ilmu lainnya.

Misalnya, sebuah karya sastra dapat dianalisis menggunakan teori psikologi tertentu untuk memahami karakter dan konflik tokoh. Dalam konteks tersebut, kontribusi utama skripsi bukan selalu menciptakan teori baru, melainkan menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan teori secara tepat untuk membedah dan menjelaskan objek yang diteliti.

Apakah Skripsi Harus Selalu Berbentuk Penelitian?

Pertanyaan mengenai hubungan antara skripsi dan penelitian sering muncul dalam pembahasan akademik. Dalam praktik perguruan tinggi, skripsi memang umumnya berbentuk laporan penelitian. Mahasiswa menentukan masalah, menyusun tujuan penelitian, memilih metode, mengumpulkan data, melakukan analisis, dan menarik kesimpulan.

Namun, jika dilihat dari hakikat karya ilmiah, penelitian tidak hanya dapat dipahami sebagai kegiatan mengumpulkan data lapangan. Kegiatan ilmiah juga dapat dilakukan melalui analisis teoritis, kajian literatur, analisis dokumen, analisis teks, maupun pendekatan lain sesuai dengan karakteristik bidang ilmu dan ketentuan akademik yang berlaku.

Hal yang paling penting adalah adanya persoalan ilmiah yang jelas dan proses penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Apabila suatu kajian menggunakan teori tertentu untuk menganalisis sebuah objek secara sistematis, maka proses tersebut tetap membutuhkan prinsip berpikir ilmiah, referensi yang relevan, metode analisis yang jelas, serta kesimpulan yang sesuai dengan hasil pembahasan.

Dengan demikian, bentuk penelitian dapat berbeda-beda tergantung bidang ilmu dan tujuan kajian. Skripsi bidang sastra dapat memiliki karakteristik yang berbeda dengan skripsi bidang ekonomi, teknik, pendidikan, kedokteran, maupun ilmu sosial. Karena itu, mahasiswa perlu mengikuti pedoman akademik yang ditetapkan oleh program studi dan perguruan tinggi masing-masing.

Pengertian Riset atau Penelitian

Setelah memahami pengertian skripsi, pembahasan berikutnya berkaitan dengan riset atau penelitian. Istilah riset dan penelitian sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan kegiatan mencari informasi atau memperoleh jawaban atas suatu pertanyaan. Namun, dalam konteks akademik, penelitian memiliki pengertian yang lebih spesifik.

Secara sederhana, penelitian dapat dipahami sebagai proses sistematis untuk memperoleh pengetahuan atau jawaban atas suatu persoalan melalui tahapan tertentu. Penelitian dimulai dari adanya pertanyaan atau masalah yang ingin dipahami, kemudian dilanjutkan dengan proses pengumpulan dan analisis informasi hingga diperoleh kesimpulan.

Keingintahuan merupakan salah satu dasar munculnya penelitian. Manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk memahami sesuatu yang belum diketahui. Ketika menemukan suatu fenomena atau persoalan, seseorang dapat mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban melalui berbagai cara. Jawaban dapat diperoleh dari pengalaman, diskusi dengan orang lain, membaca buku, mencari informasi, maupun melakukan penelitian.

Namun, tidak semua kegiatan mencari informasi dapat disebut sebagai penelitian ilmiah. Membaca sebuah artikel untuk mengetahui definisi suatu istilah, misalnya, merupakan kegiatan mencari informasi, tetapi belum tentu memenuhi karakteristik penelitian. Penelitian membutuhkan proses yang lebih terstruktur, tujuan yang jelas, metode tertentu, serta analisis terhadap informasi atau data yang diperoleh.

Penelitian Bukan Sekadar Mengumpulkan Informasi

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap penelitian hanya sebagai kegiatan mengumpulkan data. Padahal, pengumpulan data hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses penelitian.

Data yang dikumpulkan harus memiliki hubungan dengan masalah penelitian. Setelah diperoleh, data perlu diolah dan dianalisis sehingga dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Tanpa proses analisis, kumpulan data belum tentu menghasilkan pengetahuan baru atau memberikan jawaban yang berarti.

Penelitian juga berbeda dengan sekadar memindahkan informasi dari satu sumber ke sumber lainnya. Mengutip beberapa buku kemudian menggabungkannya ke dalam sebuah tulisan belum otomatis menjadikan tulisan tersebut sebagai penelitian. Penelitian membutuhkan proses berpikir kritis untuk menghubungkan informasi, menguji argumentasi, memahami pola, atau menjelaskan suatu fenomena berdasarkan metode tertentu.

Penelitian Bukan Sekadar Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan salah satu metode atau bagian yang dapat digunakan dalam penelitian, tetapi penelitian tidak selalu identik dengan kegiatan membaca buku di perpustakaan. Penelitian dapat menggunakan berbagai sumber data dan metode sesuai dengan tujuan kajiannya.

Dalam penelitian kuantitatif, misalnya, data dapat diperoleh melalui survei dan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan metode statistik. Dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, atau sumber lainnya yang kemudian dianalisis secara mendalam.

Penelitian juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder. Peneliti dapat menggunakan laporan pemerintah, data statistik, laporan perusahaan, dokumen kebijakan, publikasi akademik, maupun sumber lain yang relevan. Yang menentukan kualitas penelitian bukan semata-mata tempat data diperoleh, tetapi bagaimana proses penelitian dirancang dan dilaksanakan.

Pandangan Leddy dan Dane Mengenai Penelitian

Leddy menjelaskan penelitian sebagai suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan dan menganalisis data atau informasi dengan tujuan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena yang menjadi perhatian peneliti. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa penelitian tidak berhenti pada proses memperoleh informasi, tetapi melibatkan analisis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Pandangan tersebut memiliki kesesuaian dengan pemikiran Dane yang melihat penelitian sebagai proses kritis untuk mengajukan pertanyaan mengenai berbagai fakta atau fenomena dan kemudian berusaha memperoleh jawaban atas pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan ini, penelitian pada dasarnya merupakan aktivitas intelektual yang menggabungkan rasa ingin tahu, pertanyaan, metode, data, analisis, dan kesimpulan.

Kedua pemahaman tersebut memperlihatkan bahwa penelitian memiliki unsur penting berupa proses yang sistematis dan tujuan yang jelas. Peneliti tidak sekadar mencari informasi secara acak, tetapi mengikuti tahapan tertentu agar jawaban yang diperoleh memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi Mengenai Penelitian

Masih terdapat sejumlah anggapan yang kurang tepat mengenai riset atau penelitian. Salah satunya adalah anggapan bahwa penelitian hanya berarti memindahkan fakta dari satu sumber ke sumber lainnya. Padahal, penelitian membutuhkan proses analisis dan interpretasi terhadap informasi yang dikumpulkan.

Kesalahpahaman berikutnya adalah menganggap penelitian hanya berarti mengumpulkan sebanyak mungkin data. Jumlah data yang besar tidak otomatis membuat penelitian menjadi lebih baik. Data harus relevan dengan permasalahan dan diperoleh melalui metode yang sesuai.

Ada pula anggapan bahwa istilah "penelitian" hanya digunakan untuk membuat sebuah tulisan terlihat lebih akademis. Padahal, penelitian memiliki prosedur dan prinsip yang harus dipenuhi. Penggunaan istilah penelitian tanpa adanya proses ilmiah justru dapat mengurangi kualitas sebuah karya.

Kesalahpahaman lainnya adalah menganggap penelitian sebagai kegiatan membongkar berbagai informasi tanpa tujuan yang jelas. Penelitian justru harus memiliki arah. Peneliti harus mengetahui masalah yang ingin dijawab dan menentukan data apa yang diperlukan untuk menjawab masalah tersebut.

Karakteristik Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah umumnya dimulai dari sebuah masalah atau pertanyaan. Masalah tersebut menjadi titik awal yang menentukan arah penelitian. Tanpa permasalahan yang jelas, proses pengumpulan data dapat menjadi tidak terarah karena peneliti tidak memiliki dasar yang kuat untuk menentukan informasi apa yang sebenarnya diperlukan.

Setelah masalah dirumuskan, penelitian membutuhkan tujuan yang jelas. Tujuan penelitian menjelaskan apa yang ingin diketahui, dianalisis, dijelaskan, atau dipahami melalui proses penelitian. Tujuan tersebut kemudian menjadi pedoman dalam menentukan metode dan data yang diperlukan.

Penelitian juga mengikuti prosedur tertentu. Prosedur tersebut dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya, tetapi pada dasarnya harus memiliki alur yang logis. Peneliti perlu menentukan bagaimana data diperoleh, bagaimana data dianalisis, serta bagaimana hasil analisis digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Dalam penelitian yang kompleks, sebuah masalah utama dapat dibagi menjadi beberapa submasalah. Pembagian tersebut membantu peneliti mengelola persoalan secara lebih sistematis. Setiap submasalah kemudian dapat dianalisis untuk memberikan kontribusi terhadap pemahaman terhadap masalah utama.

Penelitian juga diarahkan pada pertanyaan, permasalahan, atau hipotesis tertentu. Pada penelitian kuantitatif, hipotesis dapat digunakan sebagai dugaan sementara yang kemudian diuji menggunakan data. Sementara dalam penelitian kualitatif, fokus penelitian dapat berkembang sesuai dengan temuan lapangan selama tetap berada dalam batas tujuan penelitian.

Penelitian membutuhkan asumsi tertentu yang harus dipahami secara kritis. Asumsi tersebut dapat berkaitan dengan teori, karakteristik objek, metode pengukuran, maupun kondisi yang menjadi dasar penelitian. Peneliti perlu menyadari asumsi tersebut karena dapat memengaruhi interpretasi terhadap hasil penelitian.

Selanjutnya, penelitian membutuhkan proses pengumpulan dan interpretasi data. Data yang telah diperoleh harus dianalisis menggunakan metode yang sesuai sehingga dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Interpretasi kemudian dilakukan untuk memahami makna dari hasil analisis tersebut dalam konteks masalah yang sedang dikaji.

Penelitian sebagai Proses yang Sistematis

Salah satu ciri utama penelitian adalah sifatnya yang sistematis. Artinya, setiap tahap memiliki hubungan dengan tahap lainnya. Masalah penelitian akan memengaruhi tujuan, tujuan akan memengaruhi metode, metode akan menentukan jenis data, dan data akan menjadi dasar analisis serta kesimpulan.

Sifat sistematis tersebut penting agar kesimpulan yang dihasilkan tidak muncul secara tiba-tiba. Kesimpulan harus dapat ditelusuri kembali melalui proses penelitian yang telah dilakukan. Pembaca harus dapat memahami bagaimana peneliti sampai pada kesimpulan tersebut.

Dalam penelitian akademik, kemampuan menjelaskan proses tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab ilmiah. Peneliti tidak hanya dituntut menghasilkan jawaban, tetapi juga harus dapat menunjukkan bagaimana jawaban tersebut diperoleh.

Hubungan Skripsi dengan Riset

Skripsi dan riset memiliki hubungan yang sangat erat. Skripsi dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan penelitian dan penalaran ilmiah yang telah dipelajari selama masa pendidikan.

Melalui skripsi, mahasiswa belajar merumuskan masalah, mencari referensi, menentukan teori yang relevan, memilih metode, mengumpulkan data apabila diperlukan, melakukan analisis, dan menyusun kesimpulan. Proses tersebut melatih mahasiswa untuk berpikir secara sistematis dan kritis.

Karena itu, keberhasilan sebuah skripsi tidak hanya diukur dari banyaknya halaman atau jumlah referensi yang digunakan. Hal yang lebih penting adalah kualitas argumentasi, ketepatan penggunaan teori, kesesuaian metode, kualitas data, kedalaman analisis, serta kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan kesimpulannya.


Skripsi merupakan karya ilmiah yang menuntut kemampuan mahasiswa dalam menyusun argumentasi berdasarkan prinsip berpikir ilmiah. Skripsi berbeda dengan tulisan populer karena memiliki aturan akademik yang lebih ketat, baik dari sisi substansi, penggunaan teori, referensi, metodologi, maupun teknik penulisan.

Sementara itu, riset atau penelitian merupakan proses sistematis untuk memperoleh jawaban atas suatu pertanyaan, memahami suatu fenomena, atau menyelesaikan suatu permasalahan melalui pengumpulan dan analisis data atau informasi. Penelitian tidak dapat disamakan begitu saja dengan mencari informasi, mengumpulkan data, membaca buku, atau menulis sebuah makalah.

Inti dari penelitian terletak pada proses ilmiah yang menghubungkan masalah, tujuan, teori atau kerangka berpikir, metode, data, analisis, dan kesimpulan. Oleh sebab itu, mahasiswa yang menyusun skripsi perlu memahami bahwa penelitian bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan latihan untuk membangun kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dengan memahami hubungan antara skripsi dan riset, mahasiswa dapat menyusun karya ilmiah secara lebih terarah. Persoalan yang dipilih tidak hanya perlu menarik, tetapi juga harus dapat dikaji menggunakan pendekatan ilmiah. Teori yang digunakan harus relevan dengan masalah, metode harus sesuai dengan tujuan penelitian, data harus dapat dipertanggungjawabkan, dan kesimpulan harus benar-benar berasal dari proses analisis yang telah dilakukan.

Baca Juga